Karena Corona, Google Suruh Karyawan Kerja di Rumah Hingga Hapus Hoax Corona di Youtube


Hi bro - Serangan virus Corona (Covid-19) yang menyerang berbagai negara ternyata juga berdampak pada perusahaan raksasa dari Amerika, Google. Bahkan Google menyarankan seluruh karyawannya di Amerika Utara untuk bekerja dari rumah, bila tugasnya memungkinkan. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi penyebaran virus corona.

Rekomendasi terbaru Google untuk seluruh karyawannya ini mirip dengan yang diberikan ke seluruh karyawan di area San Francisco Bay, Dublin, dan Seattle, beberapa waktu lalu.

Mengutip laman Reuters, Rabu (11/3/2020), Google mengirimkan memo pada Selasa lalu ke puluhan ribu karyawannya di Amerika Utara dan merekomendasikan mereka untuk bekerja dari rumah, setidaknya hingga 10 April mendatang.

Meski begitu, kantor Google akan tetap buka bagi mereka yang pekerjaannya harus dilakukan di kantor. CEO Google, Sundar Pichai juga meminta para karyawan untuk lebih berkontribusi membatasi diri berada di ruang publik.

Baca Juga : Efek Corona, Bos Facebook Kehilangan Kekayaan USD 4,1 Miliar

"Kalau bisa, membatasi diri dari keramaian akan membantu meurunkan risiko penyebaran. Terpenting, akan mengimbangi beban puncak melalui sistem perawatan kesehatan yang kritis dan juga menyimpannya untuk orang yang membutuhkan," kata Sundar Pichai dalam cuitannya.

Tidak hanya itu, Google juga memberikan honor pengganti cuti kepada seluruh staf sementara dan karyawan kontraknya jika mereka mengambil cuti karena Covid-19.

"Dana ini berarti, jika angkatan kerja kami bekerja lebih panjang akan diberi kompensasi di atas jam kerja normal mereka," kata blog Google.

Tidak hanya itu, juru bicara Google juga mengatakan, perusahaan kini bakal memblokir iklan penjualan masker di platform mereka, agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan di tengah wabah virus corona.

CEO Google Minta Karyawan Agar Tidak Panik Dengan Corona

Kehadiran wabah virus corona membuat perusahaan besar seperti Google terpaksa menghimbau pegawai mereka untuk bekerja di rumah demi menjaga kesehatan mereka dari ancaman virus tersebut.

Namun hal tersebut tidak membuktikan bahwa Google panik dalam mengatasi penyebaran virus corona. Hal tersebut dikonfirmasi oleh CEO Google dan Alphabet, Sundar Pichai.

Melalui memo kepada karyawannya, Pichai berharap bahwa seluruh pegawai di Google agar tidak panik dengan virus corona, dan dapat terus termotivasi meskipun ada ancaman virus tersebut.

"Kami tahu ini adalah masa di mana setiap orang tidak bisa tenang, namun kita harus tetap dapat berkontribusi untuk memenuhi misi kita dan terus membantu orang-orang di saat seperti ini," tulis Pichai.

Selain itu Pichai juga mengatakan bahwa pegawai dapat terus berkomunikasi dan terkoneksi satu sama lain meskipun berada di rumah dengan memakai layanan milik Google seperti Google Cloud, Docs, serta Gmail.

Sebelumnya Google Irlandia sudah meliburkan 8 ribu karyawannya setelah mengetahui ada satu karyawan yang mengalami flu yang merupakan salah satu gejala penderita virus corona.

Google Hapus Konten Obat Tradisional Bisa Sembuhkan Corona yang tersebar di platform mereka, Youtube

Layanan mesin pencari, Google mengatakan telah menurunkan sejumlah video yang beredar di Youtube berisi konten obat tradisional yang tidak terbukti menyembuhkan virus corona novel (COVID-19) secara medis.

Youtube menilai konten tersebut menimbulkan kegaduhan karena membuat hasutan bahwa tak perlu berkonsultasi dengan dokter dan cukup mengandalkan obat tradisional.

"Jadi kalau misalnya ada video (obat tradisional) yang ngakunya lebih ampuh (menyembuhkan virus corona) daripada ke dokter dan tidak terbukti secara medis, pasti kita take down," kata Head of Public Policy Google Indonesia, Putri Alam kepada awak media di kantor Kemenkominfo, Jakarta, Senin (9/3).

Namun, kata Putri, konten obat tradisional misalnya yang menawarkan jamu-jamuan untuk meningkatkan imunitas tubuh, masih dapat beredar di paltform mereka.

Penurunan konten virus corona yang tidak terbukti secara medis itu dilakukan melalui machine learningdan manual.

Menurut Putri, maksud dari cara manual itu ketika pengguna melaporkan konten virus corona yang tidak sesuai dengan pedoman komunitas Youtube lewat fitur 'flagging tools'.

"Kita mengandalkan juga laporan dari publik melalui flagging tools kita dan kalau seperti itu kita review (tinjau) secara manual," tuturnya.

Selain melakukan take down konten informasi palsu (hoaks) soal corona, Google juga memblokir hasil pencarian soal virus corona dan COVID-19.

Artinya, jika pengguna memasukkan kata kunci 'virus corona' atau COVID-19 di Google Play Store, maka akan muncul tulisan No results found for "coronavirus" (tidak ada hasil untuk pencarian virus corona).

Google pun mengumumkan bagi pengguna G Suite dan G Suite for Education bisa menggunakan fungsionalitas Hangouts Meet premium secara gratis. Kebijakan itu dikeluarkan imbas virus corona yang merebak ke puluhan negara dan membunuh 3 ribu lebih manusia.

Hangouts Meet premium bisa digunakan secara gratis sejak pekan ini hingga 1 Juli 2020. Google berharap kebijakan itu dapat memudahkan orang untuk bekerja dari jarak jauh karena khawatir dengan penularan Covid-19.

Apple dan Google Menolak Informasi Hoaks Virus Corona

App Store dilaporkan menolak aplikasi yang terkait dengan virus yang tidak dikembangkan oleh pemerintah atau pejabat kesehatan.

Pengembang aplikasi mengatakan kepada CNBC bahwa agar diterima Apple, aplikasi dengan informasi tentang medis saat ini perlu diserahkan oleh lembaga yang diakui.

Sementara Google Play memblokir semua pencarian untuk virus itu. "Kami tidak dapat menemukan apa pun untuk pencarian Anda," bunyi laman Google Play ketika mencari virus corona, seperti dikutip laman Daily Mail, baru-baru ini.

Perusahaan itu telah menerbitkan situs web khusus yang disebut 'Coronavirus: Stay Informed' dengan daftar termasuk aplikasi dari Palang Merah, organisasi berita Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) dan Twitter.

Hingga Minggu malam, 8 Maret 2020, virus yang berawal dari Wuhan, Provinsi Hubei Cina itu sudah dikonfirmasi telah menginfeksi 107.758 kasus, dengan korban meninggal 3.658 orang, mayoritas Cina daratan sejak pertama kali diumumkan pada Desember 2019. Dan, total yang sudah disembuhkan sekitar 60.660 orang.

Meskipun internet bekerja tanpa lelah untuk memberikan informasi yang akurat dan terkini, informasi yang tidak akurat juga menyebar cepat, sehingga WHO menyebutnya sebagai 'infodemik'. Namun, raksasa teknologi dunia tampaknya melangkah untuk membantu menekan informasi yang salah tentang virus itu.

Empat pengembang independen mengatakan kepada CNBC bahwa Apple menolak aplikasi mereka, yang akan memungkinkan orang untuk melihat statistik tentang negara mana yang telah mengkonfirmasi kasus COVID-19. Dan tampaknya hanya ada sekitar dua aplikasi yang terkait dengan virus, dengan sisanya menjadi sumber berita.

Selain itu, Google tidak mengambil risiko dan telah sepenuhnya memblokir hasil pencarian untuk virus corona di Google Play. Zachary Shakked, pengembang dan pendiri hashtagexpert, berbagi di Twitter pengalamannya dengan Apple. "Menghabiskan sepanjang hari kemarin membangun aplikasi virus corona hanya untuk mendapatkan penolakan ini," bunyinya dalam sebuah posting.

Di unggahan itu menunjukkan peringatan dari raksasa teknologi tersebut yang berbunyi: "Penjual dan nama perusahaan yang terkait dengan aplikasi Anda tidak mencerminkan lembaga yang diakui, seperti entitas pemerintah, rumah sakit, perusahaan asuransi, organisasi non-pemerintah, atau universitas, yang diperlukan untuk konten aplikasi ini oleh Pedoman 5.2.1 dari Pedoman Peninjauan App Store."

Tindakan keras itu dilakukan ketika perusahaan-perusahaan besar dihadapkan pada serangkaian informasi yang salah terkait dengan wabah virus corona.

Sebelumnya, bulan lalu Amazon melarang lebih dari 1 juta produk untuk dijual pada platformnya setelah ditemukan secara tidak akurat dan mengklaim dapat menyembuhkan atau mempertahankan diri terhadap virus corona. Amazon juga menghapus puluhan ribu penawaran dari pedagang yang katanya berusaha untuk menipu konsumen.

Belum ada Komentar untuk "Karena Corona, Google Suruh Karyawan Kerja di Rumah Hingga Hapus Hoax Corona di Youtube"

Posting Komentar

- Karena banyaknya Komentar / pertanyaan yang masuk, maka admin melakukan moderasi terlebih dahulu. Mohon bersabar kalau komentar / pertanyaan anda belum dibalas :)

- Pertanyaan yang terlalu susah bisa jadi penyebab pertanyaan tidak dijawab, karena admin cuma Newbie :D

- Jangan nyebar SPAM, atau komentar yang mengandung SARA.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel