Informasi Lowongan Kerja Bank dan BUMN
Temukan kami di Twitter #lokerupdate

Efek Corona, Bos Facebook Kehilangan Kekayaan USD 4,1 Miliar


Hi bro - CEO Facebook Mark Zuckerberg dikabarkan telah kehilangan kekayaannya sebesar USD 4,1 miliar atau setara Rp 59 miliar hanya dalam satu hari.

Pria 35 tahun ini kehilangan kekayaannya karena nilai saham Facebook turun gara-gara ketakutan publik atas virus corona. Demikian menurut laman Forbes.

Mengutip Business Insider, Rabu (11/3/2020), penurunan kekayaan Mark Zuckerberg ini merupakan yang terbesar dalam daftar kekayaan miliarder Forbes pada pekan lalu.

Dalam laporan disebutkan, investor mungkin mewaspadai ketergantungan Facebook pada sektor-sektor yang terdampak virus corona paling parah. Misalnya sektor perjalanan, ritel, barang yang dikemas konsumen, dan hiburan untuk pendapatan iklannya.

Menurut analis Needham Laura Martin, keempat industri di atas menyumbang antara 30-45 persen dari total pendapatan Facebook.

Baca Juga : Karena Corona, Google Suruh Karyawan Kerja di Rumah Hingga Hapus Hoax Corona di Youtube

Menolak Berkomentar

Perwakilan Facebook untuk Mark Zuckerberg tidak memberikan respons untuk memberikan permintaan komentar atas kekayaan sang CEO.

Sekadar informasi, Forbes memperkirakan kekayaan Mark Zuckerberg sekarang mencapai USD 64,2 miliar. Dari angka itu, 13 persen sahamnya di Facebook merupakan kontributor utama kekayaannya.

Kekayaan Bos Amazon Juga Turun

Untuk diketahui, Zuckerberg mendirikan Facebook ketika masih berkuliah di Harvard pada 2004.

Selama satu pekan terakhir, nilai saham Facebook anjlok 7 persen pada penutupan pasar hari Senin.

Tidak hanya Mark Zuckerberg yang keyaaannya turun. CEO Amazon Jeff Bezos juga kehilangan USD 18 miliar kekayaannya dalam sebulan terakhir.

Bos Facebook Bentuk Gugus Tugas untuk Percepat Diagnostik Virus Corona

Yayasan amal milik bos Facebook dan istri, Chan Zuckerberg Initiative, membentuk gugus tugas virus corona. Tujuannya adalah untuk melipatgandakan kapasitas pengujian dan diagnostik Covid-19 di Bay Area, San Francisco.

Diumumkan oleh Mark Zuckerberg lewat unggahan Facebook-nya, yayasannya akan mendanai akuisisi mesin diagnostik Covid-19 yang disetujui oleh FDA.

"Dengan akuisisi ini, akan secara signifikan meningkatkan kemampuan Bay Area untuk menguji dan mendiagnosis kasus baru. Kami juga menjembatani koneksi antara laboratorium klinis di Stanford dan dan UCSF untuk membantu mendistribusikan beban pengujian di seluruh wilayah," kata CEO Facebook Mark Zuckerberg dalam unggahan blognya, dikutip dari Business Insider, Rabu (11/3/2020).

The Chan Zuckerberg Initiative berharap, mesin diagnostik itu bakal siap pada 16 Maret mendatang. Meski begitu, tes hanya bisa dilakukan bagi pasien dengan gejala virus corona, dengan persetujuan dokter.

Wakil Presiden Yayasan Chan Zuckerberg Biohub Joe DeRisi mengatakan, saat epidemi virus corona terus tumbuh, kemampuan untuk menguji dan mendiagnosis kasus menjadi hal yang sangat penting. 189 ribu orang.

"Pengadaan mesin diagnostik baru ini akan berdampak signifikan pada kemampuan kita untuk merespon wabah dengan cara lebih baik," katanya.

Adapun anggota gugus tugas corona ini terdiri dari pengurus Chan Zuckerberg Initiative dan Chan Zuckerberg BioHub. Kedua grup ini didanai oleh Zuckerberg dan Priscilla Chan, begitu juga dengan ilmuan dari Stanford University dan University of California San Francisco.

Pembentukan gugus tugas tersebut terjadi saat kapasitas AS masih terbatas menguji individu yang terkena Covid-19.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyebut, kurang dari 2.000 orang telah diuji. Sementara, di Korea Selatan yang populasinya kurang dari seperenam penduduk AS telah menguji lebih dari 189 ribu orang. 

Presiden Donald Trump berpotensi terinfeksi virus corona. Gedung putih undang raksasa teknologi seperti Facebook hingga Google bahas covid-19.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengundang raksasa teknologi untuk membahas upaya mengatasi virus coronapada Rabu waktu setempat. Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi AS mengonfirmasi bahwa Facebook, induk Google, Amazon, Twitter, Apple, dan Microsoft hadir dalam pertemuan ini.

Dikutip dari Reuters, pertemuan tersebut akan dipimpin oleh Chief Technology Officer AS Michael Kratsios. Selain itu, ada beberapa perusahaan yang berpartisipasi melalui telekonferensi.

Sebelumnya, pejabat Gedung Putih bertemu dengan perusahaan di sektor maskapai penerbangan, industri keuangan, dan kesehatan untuk membahas upaya menahan dampak dari penyebaran virus corona.

Berdasarkan data John Hopkins CSSE, total kasus virus corona secara global mencapai 119.094 hingga pukul 11.08 WIB. Dari jumlah tersebut, 1.023 di antaranya berada di Negeri Paman Sam. Korban meninggal dunia sebanyak 23 orang di AS.

Apalagi,  Presiden Donald Trump sempat melakukan kontak dekat dengan dua anggota Kongres dari Partai Republik yang kini mengisolasi diri terkait virus corona. Isolasi itu berdasarkan rekomendasi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).

Sekretaris Gedung Putih bagian menangani pers Stephanie Grisham menyampaikan, Trump belum dites terkait virus corona. "Karena dia tidak memiliki kontak dekat dengan pasien yang telah dikonfirmasi sejak lama,” katanya dikutip dari CNN Internasional, kemarin (10/3).

Akan tetapi, perusahaan teknologi di Negeri Panda juga berpartisipasi mengantisipasi dampak dari penyebaran covid-19. Sebagaimana diketahui, virus corona lebih dulu menyebar secara masif di Tiongkok. 

Alibaba misalnya, meluncurkan klinik online pada aplikasi Alipay dan Taobao pada Januari lalu. Mereka juga mengembangkan algoritma kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) guna mengidentifikasi pneumonia.

Lalu, Baidu membuat platform konsultasi dokter onlinetanpa dipungut biaya dan algoritma bernama 'LinerFold' untuk lembaga penguji gen, pusat kontrol epidemi, dan peneliti global. Algoritma itu diklaim dapat memahami susunan genetik dari virus corona, sehingga bisa membantu pengembangan vaksin.

Tencent juga meluncurkan layanan konsultasi kesehatan online gratis di WeChat. Lalu unit bisnis komputasi awan (cloud) Huawei, yakni GrandOmics Biosciences mengembangkan alat untuk memahami susunan genetik virus corona.

Begitu juga dengan perusahaan berbagi tumpangan (ride hailing) Tiongkok, DiDi. Mereka menyediakan layanan cloudgratis untuk penelitian terkait virus corona.

Sumber : Liputan6.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel